Eks Penari RMS(Republik Maluku
Selatan) Berpartisipasi di HUT RI, Kodam Pattimura Mengapresiasi
Ambon - Narapidana di LP Nusakambangan,
Cilacap, Jawa Tengah, John Teterisa berpartisipasi aktif ikut merayakan HUT RI
ke-71. John yang terlibat dalam kasus separatis Republik Maluku Selatan (RMS)
itu mendapat apresiasi dari Kodam XVI Pattimura.
"Kita sangat bersyukur, bahwa Putera Maluku yang terlibat RMS sudah bisa
menyadari kekeliruannya," ungkap Kapendam XVI Pattimura, Kolonel Hasyim
Lalhakim saat berbincang dengan detikcom di Ambon, Senin (15/8/2016).
John yang berasal dari Desa Aboru, Pulau Haruku, Maluku Tengah itu dihukum 15
tahun penjara karena membawa bendera RMS saat menari Cakalele pada Peringatan
Hari Keluarga Nasional XIV di Lapangan Merdeka, Ambon, pada 29 Juni 2007.
Perayaan tersebut dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Saya yakin bahwa apa yang dilakukan itu bukan niatnya, tapi karena
situasi dan kondisi lingkungannya," kata Hasyim.
Pria yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang guru SD di tempat asalnya
tersebut baru menjalani hukuman selama empat tahun. Penari Cakalele yang
membawa bendera RMS tersebut,dihukum di LP Nusakambangan. Sebagian lagi ada
yang sudah bebas dan kembali menjalani kehidupan normal dan telah menyadari
kesalahannya.
Tampaknya penjara juga membuat sadar John. Dalam rangka peringatan HUT RI kali
ini, ia ikut dalam pertandingan tradisional terompah panjangdan menyayikan lagu
'Hari Merdeka' secara serentak. Pria yang akrab disapa Jonte itu dipercaya
menjadi dirigen untuk memimpin ratusan warga binaan LP Nusakambangan.
Pertandingan itu untuk memecahkan rekor nasional. Semangat Jonte mampu
menghipnotis penonton karena mampu menghayati semua lirik lagu. Bahkan tanpa
alas kaki, Jonte dengan sepenuh hati menjalankan tugasnya meski kondisi
lapangan becek.
"Kita berharap nilai kebangsaannya semakin tumbuh, apalagi dia sebelumnya
guru SD di Aboru," kata Hasyim.
Kodam Pattimura di bawah pimpinan Mayjen Doni Monardo menurut Hasyim juga
memiliki program untuk merangkul partisipan RMS. Terutama yang berada di Pulau
Haruku dan sekitarnya yang menjadi basis kelompok separatis tersebut. Yakni,
kata Hasyim, program 'Merubah Lawan menjadi Kawan, Mengajak Kawan menjadi
Saudara'.
Stigma 'RMS' menjadikan Desa Aboru kurang tersentuh dari program pemerintah
sehingga menyebabkan sarana prasarana sangat minim. Seperti pelayanan
kesehatan, dermaga, dan sekolah. Kodam Pattimura pun memberi bantuan sebagai
bentuk kepedulian bagi masyarakat setempat.
"Dengan kegiatan sosial seperti pengobatan, bantuan bibit ikan, keramba,
memberi Bubu (perangkap ikan). Intinya untuk membuka dialog, untuk kita tahu
'apa sih persoalan kamu sampai seperti itu?' Kita bantukan cari solusi,"
jelasnya.
Tak hanya itu, Kodam Pattimura mulai tahun ini juga kembali memberikan
kesempatan kepada putera daerah Pulau Haruku untuk masuk ke TNI. Ini kali
pertama warga Aboru bisa mengikuti pendidikan militer sejak tahun 1999 karena
sebelumnya banyak warga yang menjadi partisipan RMS.
"Dari Aboru mulai tahun ini kita terima 3 orang putera daerahnya untuk
masuk TNI. Tadinya sempat tidak, karena daerah situ termasuk basis RMS,"
tutur Hasyim.
Melalui pendekatan sosial, kini gerakan separatis mengatasnamakan RMS sudah
mulai memudar. Pengibaran bendera 'Benang Raja' pun disebut Hasyim sudah hampir
tidak ada. Memang di beberapa kesempatan Bendera RMS dikibarkan oknum di
Haruku, namun tidak pernah ada warga yang yang ditangkap. Petugas hanya
menurunkannya dan berharap tidak ada warga yang bersimpatik lagi kepada
kelompok separatis itum.
"Partisipan mungkin masih ada satu dua, karena ada merasa mungkin
keterbatasan, tapi jumlahnya sudah sangat berkurang. Maka itu yang coba kita
bantu untuk benar-benar menghapuskan RMS," Hasyim menerangkan.
Kodam Pattimura pada perayaan HUT RI ke-71 pun ikut memfasilitasi kegiatan di
Aboru dan desa-desa di sekitarnya. Raja (Kepala Desa) Aboru mengharapkan agar
puncak HUT RI tahun ini di Haruku dipusatkan di Aboru.
"Kami bantu fasilitasi. Dan program-program sosial juga tidak dilakukan
satu atau dua kali saja. Tapi secara berkelanjutan. Dan tidak hanya di desa itu
saja tapi desa-desa di sekitar Pulau Haruku," ucap Hasyim.
Menurutnya, Pangdam Pattimura Majyen Doni Monardo meminta kepada jajarannya
untuk terus merangkul warga di Pulau Haruku. Dengan pendekatan seperti itu
begitu, sisa-sisa dari RMS pada akhirnya bisa benar-benar tidak tersisa lagi.
"Program Pangdam seperti itu. Harapannya mereka (partisipan RMS) Dengan
kembalinya nilai juang dia bisa kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Sebelumnya diberitakan, Jonte mengaku sangat menghayati lirik lagu Hari Merdeka
saat memimpin ratusan warga binaan LP Nusakambangan. Ia mengaku melepaskan
semua jiwanya.
"Saya senang dengan adanya semua ini, di manapun saya dan apa yang bisa
saya lakukan dalam situasi seperti apapun kalau itu tidak bertentangan dengan
aturan hukum otomatis saya lakukan," tandas Jonte, Senin (15/8)
http://news.detik.com/berita/3276261/eks-penari-rms-berpartisipasi-di-hut-ri-kodam-pattimura-mengapresiasi?_ga=1.45047908.1148943354.1471292497